Selasa, 03 November 2015

cerpen

LIBURAN DI JOGJA
Libur semester dulu aku dan keluarga liburan di Yogyakarta, provinsi istemewa ini mempunyai banyak obyek wisata yang sangat menarik. Mulai dari obyek laut, sejarah, candi, dan lain sebagainya. Waktu libur semester itu, aku liburan di Malioboro.
Berangkat naik kereta, aku, ibu, bapak, dan kakak turun di stasiun Tugu berangkat dari
stasiun Madiun. Cukup cepat naik kereta jogja madin Cuma butuh waktu 4 jam. Tidak terasa sudah sampai di Yogyakarta. Dari stasiun Tugu Cuma jalan ke timur sedikit terus ke selatan sudah sampai ke Malioboro.
Sepanjang jalan Malioboro banyak sekali pedagang kaki lima. Pedagang itu menjual banyak produk mulai kerajinan, pakaian sampai makanan. Aku bingung mau pilih yang mana pun harganya murah -  murah sekali.
Bapak ku beli sandal, ibu beli daster, kakak ku beli kaos. La terus akum au beli apa ? itu yang membuatku bingung. Lihat – lihat akhirnya aku pilih beli sandal. Hitung -  hitung sandal ku sudah hamper rusak, harganya pun juga murah dan bisa di tawar.
Sandalnya berharga Rp 40.000,00 tapi bisa aku tawar Rp 15.000,00. Murah banget pun itu juga asli buatan jogja. Enggak terasa waktunya sudah hamper sore, aku dan keluarga pulang dan jalan lagi menuju ke Stasiun Tugu. Terus beli tiket dan kembali ke Madiun lagi. Senang sekali hari ini.

Rabu, 28 Oktober 2015

Contoh Cerita Pendek

Sandal Baru


          Di pasar adiknya Eka merengek ingin mendapatkan sandal baru. Sandal adiknya memang telah benar-benar robek dan tidak berbentuk. Adik Eka bernama Rina, yang usianya 5 tahun. Eka sangat sayang dengan adiknya, karena itu adalah adik satu-satunya. Eka dari keluarga yang tidak mampu, ayahnya hanya bekerja sebagai buruh bangunan dan ibunya adalah tukang cuci di desanya.
 "Mbak belika sandal yang warnanya pink itu dong, kelihatannya bagus sekali," pinta Rina sambil ingin menangis.
"Mbak tidak punya uang, Rin. Uang ini saja hanya akan digunakan membeli sayuran saja, "jawab Eka pada adiknya.
          Meskipun tidak dituruti, Rina tetap menerima. Anak itu sudah mengerti bahwa hidup mereka sulit, untuk makan saja sudah kesulitan apalagi untuk membeli sandal.
          Setelah dari pasar membeli sayuran Eka kembali ke dalam rumahnya yang seperti gubuk tapi masih tetap terlihat rapi, karena Eka orang yang rajin dan patuh. Rumahnya dari anyaman bambu dan atapnya telah rapuh dimakan rayap, tapi depan rumahnya banyak bunga yang mekar.
          Meskipun keluarga Eka tidak mampu, tapi ayahnya ingin Eka menjadi sukses dan ingin menyekolahkannya sampai perguruan tinggi. Ayahnya tidak kecewa karena Eka termasuk siswa yang pintar di sekolah. Malamnya saat Eka akan belajar dan ayahnya akan kembali ke pekerjaannya.
"Ka, kamu harus menjadi orang yang berguna dan melebihi ayah yang hanya menjadi buruh bangunan," kata ayahnya Eka.